Cari Blog Ini

Jumat, 03 November 2017

MAKALAH KEPUASAN KERJA



KEPUASAN KERJA


Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Kelulusan   Mata Kuliah Manajemen Kinerja


Disusun Oleh :
1.      M. ARIF
2.      SRI YUMIANTINA
3.      NELLY
4.      NANDA NURLIAWAN




KONSENTRASI MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM STUDI MANAJEMEN SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI
INDRAGIRI (STIE-I) RENGAT 2017







KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapakan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat Ridho dan rahmat-nya Penulis dapat menyelesaikan Makalah dengan Judul KEPUASAN KERJA. Shalawat berangkaikan salam penulis ucapkan kepada jujungan kita Nabi besar MUHAMAD S.A.W Yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam yang terang penuh berkah seperti yang saat ini kita rasakan.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan mata kuliah MANAJEMEN KINERJA di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indragiri (STIE-I).
Dalam penulisan ini merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknik penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang di miliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat di perlukan untuk menyempurnakan penulisan makalah ini.
Dan semoga dengan selesainya penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Aamiin.










Rengat,1 November 2017

Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.    Latar belakang.............................................................................. 4
1.2.    Rumusan masalah......................................................................... 4
1.3.    Tujuan dan Manfaat..................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
2.1.  Pengertian Kepuasan Kerja........................................................... 6
2.2.  Teori Kepuasan Kerja................................................................... 7
2.3.  Mengukur Kepuasan Kerja........................................................... 8
2.4.  Pengaruh Kepuasan Kerja............................................................. 8
2.5.  Organizational Citizenship Behavior............................................ 9

BAB III PENUTUP

4.1.    Kesimpulan................................................................................... 10
4.2.    Saran............................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA





BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam era globalisasi ini, setiap perusahaan berusaha meningkatkan serta mengembangkan perusahaan dengan mengadakan berbagai cara yang tersusun dalam program untuk meningkat kinerja para karyawan. Banyak faktor yang terkait dalam perbaikan kinerja perusahaan. Perusahaan kurang menerapkan sistem promosi jabatan dengan benar. Promosi jabatan merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan untuk dapat meningkatkan prestasi kerja karyawan sehingga karyawan bisa bekerja mencapai target perusahaan, yang akhirnya akan memampukan perusahaan mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.
Bagi setiap perusahaan, karyawan bagian produksi merupakan sumber daya yang tidak kalah pentingnya dengan sumber daya perusahaan yang lainnya. Bahkan, karyawan bagian produksi memegang kendali dalam proses produksi. Dengan kata lain, lancar atau tidaknya sebuah proses produksi akan sangat tergantung pada karyawan pelaksana produksi tersebut.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan hal yang bersifat individual. Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianutnya. Semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut individu, semakin tinggi tingkat kepuasan yang didapat. Demikian pula sebaliknya, semakin banyak aspek dalam pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan dan sistem nilai yang dianut individu, semakin rendah tingkat kepuasan yang didapat.
Secara empirik dapat dikatakan bahwa ada hubungan positif antara kepuasan kerja dengan produktivitas. Kepuasan kerja yang tinggi dapat membuat karyawan bekerja dengan lebih baik yang pada akhirnya akan meningkatkan. Oleh karena itu dalam makalah ini akan membahas lebih dalam mengenai kepuasan kerja.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
a.       Apa pengertian kepuasan kerja?
b.      Apa teori kepuasan kerja?
c.       Bagaimana mengukur kepuasan kerja?
d.      Apa saja pengaruh kepuasan kerja?

1.3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan makalah ini adalah menjelaskan tentang pengertian, teori mengukur dan pengaruh kepuasan kerja. Manfaat dari penulisan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya, dan semua pihak yang sekiranya membutuhkan informasi seperti yang dapat disajikan di dalam makalah ini.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kepuasan Kerja
Sebelum membahas yang lain, kita seharusnya mengenali terlebih dahulu mengengenai pengertian dari kepuasan kerja dari berbagai pendapat para ahli agar dapat lebih mengerti pembahasan yang ada di makalah ini. Berikut pengertian – pengertiannya.
Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Kepuasan kerja dinikmati dalam pekerjaan, luar pekerjaan, dan kombinasi dalam dan luar pekerjaan. Kepuasan kerja dalam pekerjaan yang dimaksud adalah kepuasan kerja yang dinikmati dalam pekerjaan dengan memperoleh pujian hasil kerja, penempatan, perlakuan, peralatan dan suasana lingkungan yang baik. (Hasibuan, M.,2007).
Robbins and Judge (2009) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan positive tentang pekerjaan  sebagai hasil evaluasi karakter-karakter pekerjaan tersebut
Definisi yang hampir mirip mengenai kepuasan kerja  adalah sebagai perasaan yang menyenangkan sebagai hasil dari persepsi  bahwa pekerjaannya  memenuhi nilai-nilai pekerjaan yang penting (Noe, R. A. , et all, 2006).
Kepuasan Kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang, yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima (Robbins dalam Wibowo,(2014).
            Greenberg dan Baron dalam Wibowo (2014) mendeskripsikan kepuasan kerja sebagai sikap positif atau negatif yang dilakukan individual terhadap pekerjaan mereka.
            Sementara itu, Vecchio dalam Wibowo (2014) menyatakan kepuasan kerja sebagai pemikiran, perasaan, dan kecendrungan tindakan seseorang, yang merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaan.
            Kepuasan Kerja merupakan respon affective atau emosional terhadap berbagai segi pekerjaan seseorang Kreitner dan Kinicki dalam Wibowo, 2014). Definisi ini menunjukkan bahwa job satisfaction bukan merupakan konsep tunggal. Seseorang dapat relatif puas dengan salah satu aspek pekerjaan dan tidak puas dengan satu atau lebih aspek lainnya.


2.2. Teori Kepuasan Kerja
A.  Two-Factor Theory

            Teori dua faktor merupakan teori kepuasan kerja yang menganjurkan bahwa satisfaction (kepuasan) dan dissatisfaction (ketidakpuasan) merupakan bagian dari kelompok variabel yang berbeda, yaitu motivators dan hygiene factors.
            Pada umumnya orang mengahrapkan bahwa faktor tertentu memberikan kepuasan apabila tersedia dan menimbulkan ketidakpuasan apabila tidak ada. Pada teori ini, ketidakpuasan dihubungkan dengan kondisi disekitar pekerjaan (seperti kondisi kerja, pengupahan, keamanan, kualitas pengawasan, dan hubungan dengan orang lain), dan bukannya dengan pekerjaan itu sendiri.

B.  Value Theory
Menurut konsep teori ini kepuasan kerja terjadi pada tingkatan dimana hasil pekerjaan diterima individu seperti yang diharapkan. Semakin banyak orang yang menerima hasil, akan semakin puas. Semakin sedikit mereka menerima hasil maka akan kurang puas. Value Theory memfokuskan pada hasil manapun yang menilai orang tanpa memerhatikan siapa mereka.
Kunci menuju kepuasan dalam pendekatan ini adalah perbedaan antara aspek pekerjaan yang dimiliki dan diinginkan seseorang. Semakin besar perbedaan, semakin rendah kepuasan orang.

C.     Teori Perbandingan Intrapersonal (Discrepancy Theory)
Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh individu merupakan hasil dari perbandingan atau kesenjangan yang dilakukan oleh diri sendiri terhadap berbagai macam hal yang sudah diperolehnya dari pekerjaan dan yang menjadi harapannya.
Kepuasan akan dirasakan oleh individu tersebut bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan kecil, sebaliknya ketidakpuasan akan dirasakan oleh individu bila perbedaan atau kesenjangan antara standar pribadi individu dengan apa yang diperoleh dari pekerjaan besar.


2.3. Mengukur Kepuasan Kerja

Dua macam pendekatan yang secara luas dipergunakan untuk melakukan pengukuran kepuasan kerja (Robbins dalam Wibowo, 2014), yaitu:

  1. Single global rating, yaitu tidak lain dengan minta individu merespons satu pertanyaan seperti dengan mempertimbangkan semua hal, seberapa puas anda dengan pekerjaan anda?
  2. Summation Score lebih canggih. Mengidentifikasi elemen kunci dalam pekerjaan dan menanyakan perasaan pekerja tentang masing-masing elemen. Faktor spesifik yang diperhitungkan adalah sifat pekerjaan, supersvisi, upah sekarang, kesempatan promosi, dan hubungan dengan co-worker.

Sementara itu, Greenberg dan Baron dalam Wibowo (2014) menunjukkan adanya tiga cara untuk melakukan pengukuran kepuasan kerja:
  1. Rating Scales dan kuesioner
            Rating Scales dan kuesioner merupakan pendekatan pengukuran kepuasan kerja yang paling umum dipakai dengan menggunakan kuesioner dimana rating scales secara khusus disiapkan
b.      Critical incidents
            Cara ini inidividu melakukan penjelasan kejadian yang menghubungkan pekerjaan mereka yang mereka rasakan terutama memuaskan atau tidak memuaskan. Jawaban mereka dipelajari untuk mengungkapkan tema yang mendasari. Sebagai contoh misalnya apabila banyak pekerja menyebutkan situasi di pekerjaan dimana mereka diperlakukan kasar oleh supervisor atau apabila pekerja memuji supervisor atas sensitivitas yang ditunjukkan pada masa ynag sulit, gaya pengawasan memainkan peranan penting dalam kepuasan kerja mereka.
c.        Interviews
Dengan melakukan wawancara tatap muka dengan pekerja dapat diketahui sikap mereka secara langsung dan dapat mengembangkan lebih dalam dengan menggunakan kuesioner yang terstruktur.

2.4. Pengaruh Kepuasan Kerja
a.    Kepuasan dan Produktivitas
            Pekerja yang bahagia tidak berarti menjadi pekerja yang produktif. Pada tingkat individual, kenyataan menganjurkan sebaliknya untuk lebih akurat, produktivitas mungkin mengarah pada kepuasan. Hal yang lebih menarik adalah apabila bergerak dari tingkat individu ke tingkat organisasi, terdapat perbaikan dukungan terhadap hubungan kepuasan dengan kinerja.
b.    Kepuasan dan kemangkiran
Hubungan antara kepuasan dan kemangkiran bersifat positif, tetapi korelasinya moderat. Keadaan tersebut masuk akal bahwa pekerja yang tidak puas pada umumnya kehilangan pekerjaan. Faktor lain mempunyai dampak pada hubungan dan menurunkan koofisien korelasi.
Sebagai contoh adalah dalam organisasi yang memberikan cuti sakit dengan bebas mendorong semua pekerja, termasuk mereka sangat puas, mengambil cuti.
c.    Kepuasan dan Pergantian
     Kepuasan juga berhubungan secara negatif dengan pergantian, tetapi korelasinya lebih kuat daripada yang ditemukan untuk kemangkiran. Faktor lain seperti kondisi pasar tenaga kerja, harapan tentang alternatif peluang kerja dan lamanya bekerja dengan organisasi merupakan hambatan penting pada keputusan aktual untuk seseorang meninggalkan pekerjaan.

2.5. Organizational Citizenship Behavior
Organizational citizenship behavior (OCB) merupakan perilaku individu yang ekstra, yang tidak secara langsung atau eksplisit dapat dikenali dalam suatu sistem kerja yang formal, dan yang secara agregat mampu meningkatkan efektivitas fungsi organisasi (Organ, 1988). Organisasi pada umumnya percaya bahwa untuk mencapai keunggulan harus mengusahakan kinerja individual yang setinggi-tingginya, karena pada dasarnya kinerja individual mempengaruhi kinerja tim atau kelompok kerja dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan.
Kepuasan kerja menjadi faktor determinan utama dari Organizational Citizenhip Behavior (OBC) pekerja. Pekerja yang puas akan lebih suka berbicara positif tentang organisasinya. Perilaku penuh kebebasan yang bukan merupakan bagian persyaratan kerja formal pekerja, tetapi meskipun demikian, mengembangkan efektivitas fungsi organisasi.
            Organisasi Organizational Citizenship Behavior. menginginkan dan perlu pekerja yang mau melakukan hal-hal yang tidak terdapat dalam job discription. Organisasi berkepentingan dengan berkembangnya sumber daya manusia yang memiliki Organizational Citizenship Behavior


BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan kajian yang membahas tentang kepuasan kerja, maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut :
Kepuasan kerja adalah sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Sikap ini dicerminkan oleh moral kerja, kedisiplinan dan prestasi kerja. Karyawan yang lebih suka menikmati kepuasan kerja dalam pekerjaan akan lebih mengutamakan pekerjaannya daripada balas jasa walaupun balas jasa itu penting. Tolak ukur tingkat kepuasan yang mutlak tidak ada karena setiap individu karyawan berbeda kepuasannya. Kepuasan kerja hanya diukur dengan kedisiplinan, moral kerja dan turnover kecil maka secara relatif kepuasan kerja karyawan baik.

3.2. Saran
Pihak perusahaan harus peka terhadap kepuasan kerja para karyawannya, ini dikarenakan kepuasan kerja karyawan juga mempengaruhi dari kualitas dan produktifitas karyawan


DAFTAR PUSTAKA

E-Learning STIE- I (Rengat)
http://masimamgun.blogspot.co.id/2011/02/organization-citizenship-behavior.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar